Posts

There's a person that I really really don't like.

Pernah gak sih benci sama orang?
Surprisingly gue gak pernah hahaha.
Gak demen dan sebel sih sering yaaa :p
Apa ya rasanya?
Bet it's exhausting??

But, there's a person that I really really don't like.
Gue ga tahu apakah ini benci atau bukan.
Gue gak sampe ngarepin dia mati atau celaka sih...
Kayak kalau gue ngebayangin mukanya rasanya ada.. idk.. something bad in my stomach gitu.
Kayak mual?

Blegh.

Gue lupa persisnya gue kenal sama dia bagaimana.
Instagramnya ga ada mukanya sama sekali, isinya cuma foto-foto estetik.
Macam Tumblr... mungkin dia gatau Tumblr. Entahlah.
But after I met him in person I know why dia ga pajang mukanya di Instagram.
(Astaga jahat Cavin)... Look, idc if you're fugly if you're nice, but... yeah.
I can't say that he's nice.

First phone call interaction... tau tau dia ngomong soal mantan gue (yang itu) pernah hohohehe sama dia. Saat itu gue belum move on dan gue cuma bisa menelan ludah sambil usap usap dada.
I thought.. well, semua o…

((melamun))

Kadang rasanya sedih kalau ingat-ingat interaksi sekarang dengan orang yang dulu pernah dekat tapi sudah drifted apart gitu bagaimana..

Like this one guy, yang dulu dekat sama gue..
Dulu dia magang kampus saat gue magang SMA. Kantornya sebelahan di sudirman.
Kita kayak seeing each other tapi kasual gitu? But it went on for... idk. A few years?
Dari dia gemuk banget sampe kurus sampe gemuk lagi sampe tetiba perutnya kotak-kotak terus sekarang gatau gimana... (KENAPA GUE SELALU DEKET SAMA COWO SEBELUM MEREKA JADI HOT KAYAK SEKARANG- THIS IS A FACT)
Saat gue mau beli formulir kampus dia yang antar dan temenin.
Saat gue pindah ke Serpong pertama kali dia pula yang antar keliling-keliling.
Gue dikasih unjuk Summarecon Mall Serpong yang belom buka.
Gue main ke tempatnya saat dia baru beli puppy.
Yah well, in short, many things happened lah ya.

Tapi kalau dilihat-lihat sekarang kayak... papasan di mall aja interaksi off gitu.
Dengan gue yang girang dan respon dia yang.. idk. Like I'm a s…

Movie Journal - Dec 2017/Jan 2018

Image
Girls Trip (Malcolm D.Lee, 2017)


Rasanya aneh lihat Regina Hall lookin' glam and proper, she's really gorgeous astaga selama ini ngebayangin dia ya kayak Brenda Scary Movie. Anyway, Girls Trip is a really fun popcorn flick. Watch it with your best friends on a sleepover or something. Tiffany Haddish gemes banget... AH!!! Gue ngeliat dia terus mikir nih orang mirip siapa ya... CHI CHI DEVAYNE!!!

The Killing of a Sacred Deer (Yorgos Lanthimos, 2017)


By now rasanya gue udah mulai pegel ngelihatin gelagat karakter-karakternya Yorgos Lanthimos. Maybe it's his thing, it's his universe, but I mean come on... Dogtooth, The Lobster, dan sekarang ini.. gue masih ada Alps yang belum ditonton dan kayaknya pas ngintip begitu juga... Dingin, emotionless, distant, dan ngomongnya kayak disuruh baca kalimat berita pas pelajaran bahasa indonesia. But anyway, Dogtooth is still my fave. Strip all the idiosyncrasies, The Killing of a Sacred Deer ceritanya basically cuma anak yang ayahnya me…

2017

Terus kan 2017 ceritanya main campaign gue is all about changes. Coba retrospeki sebentar. Beneran ada yang berubah enggak... Rasanya sih ada beberapa hal besar yang terjadi di 2017 sih, kayak misalnya...
1. Gue akhirnya sunat I mutilated a part of my body! Well not me obviously, the doctor did it.
I love my new and improved dick. I love it I love it I love it, heck, they love it.
2. Gue bisa dibilang punya hewan peliharaan sejenak R.I.P Dora, you're terribly missed. Dan kayaknya gue mikir lagi untuk punya pet beneran. Apa companionship nya sebanding dengan patah hatinya? Sama halnya dengan punya pacar sih, but... idk... at least life span nya lebih panjang? But hey, urusan nanti, duit aja belum punya wooo.
3. I kinda moved out from home and moved in with my boyfriend (and a friend too!) I found a greatest joy from sweeping the floor. I also learned that I really really really love ngoceh soal barang berantakan dan kotor. As a result, pacar gue nyahut "Iya Bu" tanpa sadar kemarin…

what's more perfect than spending the last days of 2017 with your beloved ones (boyfriend, friends, family, and your insecurities)

Yesterday was a loooooong day.

I just spent my day with my best friends, but i swear to god, it was really taxing.
Gue, Ica, Stella, dan Will. Minus Evelyn.

I think it went along just fine at first, dari catching up (karena kita beneran baru bisa ngumpul kalau ada nikahan seseorang dan selebihnya tbh kita gak banyak ngobrol juga, i mean i know they were there, mereka pun tahu gue ada, i'm on Instagram everyday.. it's just.. y'know.. life happens?), ngetawain hal tolol, sampai teman gue mulai cerita soal usaha dia punya anak. It really was interesting, gue bisa lihat emotional growth dari teman-teman yang mendewasa berbarengan. Mereka dulu berantem ngambek-ngambekkan norak karena hal sepele bersambung dari kampus sampe ke parkiran mall Karawaci and now they're expecting a baby. A tiny human. In her belly! How cool is that??? I never care for this kind of thing, tapi ternyata rasanya beda kalau teman dekat yang mengalami. I'm tearing up just from typing this. But idk…

Movie Journal - Nov 2017 (10)

Image
I Saw the Devil (Kim Jee-woon, 2010)


This movie is a battle of endurance. Brutal dan melelahkan. Revenge flick biasanya diakhiri sama balas dendamnya kan, kalau di film ini penjahatnya dikejar dan dilepas lagi, berkali-kali. Gue suka sih tapi bagian teman penjahatnya yang ternyata serial killer juga, kanibal, dan tinggal di mansion luas itu rasanya jarring sekali. Gak grounded dan terlalu... apa ya... It doesn't sit right aja buat gue.
The Long Excuse (Miwa Nishikawa, 2016)


Gue nonton dua film di Festival Film Jepang awal November lalu,
salah satunya film ini. Lihat posternya, lo pasti bisa ngerasain overall mood film ini bagaimana.
Sangat heartwarming dan gemas sangat. Sejatinya film ini tentang bromance. Kyaa.

Posesif (Edwin, 2017)


Gue kaget Edwin bikin film begini, habis biasanya arthouse gitu kan.
Putri Marino dan Adipati Dolkien main bagus di film ini, gak relevan tapi Putri ini cantik sekali, not pretty pretty you know, enak dilihatnya.

Awalnya gue pikir karakter Putri seperti…

Look, fuck you and your judgmental asses.

This is my pent up emotion. First it bugged me - now I'm angry.
Keputusan gue dan pacar gue untuk menjalani open relationship, ya prerogatif kami. Tentunya kita punya alasan - yang lo gak tahu btw. Tentunya kita sudah bicarakan dengan baik, sampai akhirnya terlahir keputusan kayak begini - yang lo gak tahu btw. Tentunya kita juga punya boundaries dan peraturan - yang lo gak tahu btw. Jadi saat lo berani-beraninya, for instance - blatantly bilang, "Jangan gitu dong," atau menggurui gue soal poligami is the best way to go, well fuck you. Lo yang jangan-gitu-dong. It's our goddamn business. If it works for us then it works for us. If it's not for you, terus yaudahhh. Good for you, I guess??? Bukan urusan gueee.
Tentunya gue expect different opinions ya, ya pasti ada opini beda, setuju gak setuju, I appreciate it. Gue bahkan dengan senang hati jawab pertanyaan kalian, misal yang paling sering gue dapet, "Gak cemburu apa?" atau semacamnya. Beda loh, mencoba…